Ticker

6/recent/ticker-posts

ANOMALI EKONOMI PANDEMI

Kabarposnews.co.id.Secara gampangan –seperti seseorang yang menerima pinangan orang tak dikenal hanya karena kebelet kawin—kita mungkin agak tergesa-gesa menyimpulkan ekonomi negeri kita di masa pandemi ini hancur lebur, sebagaimana ekonomi bangsa-bangsa lainnya juga demikian.

Kadang-kadang, generalisasi memang bisa membuat kita tersesat melihat sesuatu hanya dari yang kasat. Sama seperti kalau kita menyimpulkan bahwa ekonomi kita berantakan atau luluh lantak, hanya karena kita mendengar atau membaca curhat-curhat yang tak pernah rehat sepanjang tahun yg baru lewat.

Namun saya menemukan lain. Ekonomi kita memang sempat mengalami kontraksi. Tapi ternyata itu tidak lama. Dibandingkan Malaysia, Singapura, guncangan ekonomi itu relatif lebih landai.

Apa buktinya? Berikut catatan dan angka-angkanya.

Di bulan Desember 2020, ekspor kita mencapai angka sebesar 16,54 miliar USD. Bagaimana dengan Desember tahun lalu? Angkanya “hanya” 14,43 miliar USD. Artinya apa? Ekspor kita naik justru di saat ekonomi kita terpukul oleh pandemi sepanjang tahun. Naiknya pun juga mayan-mayan nendang: 8,39 persen.

Secara total, angka ekspor kita sepanjang tahun dari Jan-Des 2020 adalah 163,31 miliar USD. Turun sih, dibandingkan periode Jan-Des 2019 yang mencapai 167,68 miliar USD. 

Tapi, angka impor kita juga turun sangat signifikan pada periode waktu yang sama. Periode Jan-Des 2020 sebesar 151,88 miliar USD, sedangkan tahun sebelumnya adalah 162,63 miliar USD.

Itu artinya, sepanjang tahun pandemi yang bersifat anomali ini, kita masih mencatatkan surplus neraca perdagangan sekitar 11-12 miliar USD. Surplus itu didapat terutama dari meningkatnya harga komoditas di pasar internasional yang selama ini menjadi andalan pendapatan nasional seperti batu bara dan minyak sawit. 

Produk nonmigas yang mengalami kenaikan signifikan antara lain adalah besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektronika, serta minyak hewan maupun minyak nabati.

Jika dilihat dari tujuan ekspor, Tiongkok dan AS yang baru saja ganti presiden, menyumbang peningkatan terbesar, yakni 43,37 persen hanya untuk pengiriman bulan Desember 2020 saja (Tiongkok) dan 11,95 persen (AS). Sepanjang tahun 2020, ke dua negara tersebut, ekspor kita juga tumbuh positif.

Sementara itu, sepanjang tahun ekspor kita menurun sangat drastis berturut turut dari yang paling besar penurunannya: Thailand (-16,76%), India (-12,83%),  Uni Eropa (-9,86%), dan Singapura (-9,83%). Terhadap negara-negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Malaysia, Jepang, dan Taiwan, kita juga turun sepanjang tahun 2020.

Tapi, sejak Desember 2020, ekspor kita sudah relatif berbalik ke trayektori positif. Hanya tinggal ke Singapura dan Uni Eropa saja angkanya masih minus jika dibandingkan secara month to month.

Surplus neraca perdagangan dicapai karena pada periode bulanan (Des 2020 dibandingkan 2019) ataupun tahunan (Jan-Des 2020 dibandingkan Jan-Des 2019), impor kita hanya meningkat dari tiga negara yaitu Korea Selatan (terbesar, 30,88%), Tiongkok, dan Malaysia. Impor dari dua negara besar –AS dan India—juga meningkat, tapi angkanya kremi: 0,71% (AS) dan 0,51% (India).

Tidak ada orang yang melek komputer yang tidak kenal istilah “MUTE” dan “UNMUTE”. Karena tombol itulah yang menyelamatkan pergerakan ekonomi kita hari ini. Tombol yang ada dalam aplikasi pertemuan online –Zoom, Webex, Meet, dll—membuat ekonomi dan bisnis tetap bergerak.

Dari data-data ekspor impor sepanjang Desember 2020 saja, saya mencium geliat yang sudah terlihat membaik dalam ekonomi. Kehancuran atau keluluhlantakan ekonomi yang kita bayangkan tidak semenakutkan yang kita bayangkan. 

Saya berharap bencana banjir, gempa bumi, belakangan ini, dapat teratasi dengan baik dan pemulihan dapat berlangsung secara lebih cepat. Apalagi, dalam penanganan bencana tersebut, terdapat perputaran ekonomi untuk keperluan rekonstruksi, penyaluran logistik bantuan, dan sebagainya

Tanda-tanda “unmuting” di sektor ekonomi itulah yang saya lihat akan memberikan harapan besar dan membangkitkan optimisme para pelaku ekonomi.

Saya sendiri bukanlah pebisnis yang harus mengambil keputusan penuh risiko menyambut tahun 2021 yang sudah “ngancik” di tangga pertama bulan. 

Para pelaku bisnis, dalam skala atau tingkatan manapun, adalah para petarung yang gagah berani untuk mengambil keputusan penting bagi masa depan bisnis mereka. Dan saya menaruh hormat setinggi-tingginya bagi mereka yang telah, sedang, dan akan mengambil keputusan gagah berani itu.

Alois Wisnuhardana, Happy Eximbanker, Personal Note
Editor : Redaksi