Ticker

6/recent/ticker-posts

MASALAH SAMPAH TAK KUNJUNG USAI DILABUHANBATU



Kabarpos.news.co.id.Labuhanbatu - Persoalan sampah di Labuhanbatu tidak kunjung usai, hal itu ditandai masih banyaknya sampah yang belum tertangani dengan maksimal,  seperti sampah pasar gelugur Rantauprapat sudah 3 hari belum diangkut, sampah-sampah liar yang tidak tertangani dan menimbulkan bau busuk, merusak pemandangan. Berbagai peralatan angkutan sampah rusak dan tidak layak pakai, pemanfaatan TPA dan Pusat Daur Ulang (PDU) Sampah yang minim serta penggajian karyawan tidak tepat waktu. 
 
Seperti yang terlihat di jalan Belibis kelurahan Bakaran batu kecamatan Rantau Selatan timbulan Sampah,bahkan sudah sampai kebahu jalan Hal ini sangat di kesalkan Masyarakat sekitar jalan Belibis juga  memasang papan Seruan kepada masyarakat yang membuang sampah di pinggir jalan tersebut bertuliskan ",Buang sampah di Rumahmu " itulah tulisan yang di pasang di tengah timbulan sampah.

Setelah melihat timbulan sampah di jalan Belibis tersebut dan melihat tulisan papan yang terpancamg di tengah timbulan sampah awak media menemui Tokoh Masyarakat Labuhanbatu yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, dari sejumlah pemberitaan (sosial kontrol) yang kita baca dan amati bersama terkait pengelolaah sampah, kita sangat berharap kepada Bapak Bupati Labuhanbatu dan atau  Bapak Sekretaris Daerah Labuhanbatu dapat mengevaluasi internal Dinas Lingkungan Hidup Labuhanbatu. 

Kekurang harmonisan antar pejabat di Dinas Lingkungan Hidup seperti yang kita baca dimedia sosial, itu sangat berdampak negatif terhadap kinerja organisasi  apalagi mereka itu mengurusi pelayanan publik dan mengelola sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari Retribusi Jasa Pelayanan Angkutan Sampah. Ketidak harmonisan itu wajib diambil keputusan sehingga tidak berdampak kepada masyarakat selaku objek retribusi sampah. 

Masyarakatkan sudah melakukan kewajibannya membayar retribusi sampah, jadi dinas itu juga wajib memberikan pelayanan publik jasa angkutan sampah secara baik dan itu adalah hak orang atau objek retribusi sampah.

Bila ditingkat organisasi itu manajemennya bobrok harus diambil keputusan, tegasnya. 

Kita juga merasakan langsung dampak negatif itu, sampah rumah tangga dikomplek perumahan dimana kita berdomisili, kerap terlambat diangkut sehingga menciptakan suasana yang kurang sehat.

Apalagi dipusat perbelanjaaan/fasilitas umum tidak rutin (sesuai jadwal) diangkut sudah pastilah menuai kritikan pedas dan bisa mencoreng nama baik Pemerintah Daerah (Eksekutif dan Legislatif).

Pemahaman yang saya sampaikan ini, bisalah menjadi dasar evaluasi, jangan dibiarkan berlama-lama,  karena bila mekanisme organisasi tidak sehat, berbagai masalah berpotensi muncul.  

Pengelolaan sampah yang baik itu, harus disiapkan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengolahan seperti yang ada saat ini. Di Tempat Pengolahan Akhir itulah terlaksana berbagai kegiatan pengurangan sampah, pemanfaatan kembali sampah dan penataan ruang TPA. 

Konsep pengelolaan sampah dan pemetaan sampah secara baik harus disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup kepada Sekretatis Daerah untuk selanjutnya diputuskan oleh Bupati bersama DPRD. Konsep kerja itu sangat perlu,  karena pasti memerlukan anggaran yang cukup tinggi. 

Tanpa dukungan Pimpinan, tidak bisa konsep kerja itu berjalan optimal. Persoalannya, ada ngak konsep kerja pengelolaan sampah itu secara khusus dipaparkan kepada Bupati atau Sekda, agar tidak ragu mengambil keputusan. 

Pengelolaan sampah itu harus menjadi skala prioritas, ngak boleh tanggung-tanggung merencanakannya, karena sampah itu setiap detik bertambah, jika tidak dikelola dengan baik dan berkesinambungan, bisa terjadi lautan timbunan sampah dimana-mana. 

Penggajian karyawan juga harus tepat waktu, peralatan kerja memadai dan terpelihara,  jumlah karyawan dan beban kerja (luas wilayah) seimbang,  kemudian jumlah pejabat atau ASN yang mengurusi sampah skala Kabupaten juga harus seimbang. 

Kita berharap,  pengelolaan sampah di Labuhanbatu kita ini dapat tertangani dengan baik dan berkesinambungan sehingga tidak menjadi bom waktu, Tutupnya.(Julip Ependi)
Editor : Redaksi