Ticker

6/recent/ticker-posts

Gerakkan BUMG, Camat Kluet Utara Gandeng Poltas


Tapaktuan | Kabarposnesw.co.id -Baru-baru ini melalui pemberitaan sebuah media, masyarakat nelayan mengeluhkan keberadaan tanaman eceng gondok yang telah mengganggu aktifitas nelayan, Senin,  24/05/2021.

Akibat perkembangbiakan yang tidak terkendali, tanaman air ini telah menyebabkan nelayan susah mendapatkan hasil ikannya di sungai Krueng Matee yang terletak di desa Pasie Kuala Ba'u tersebut. Padahal sebelumnya, sungai tersebut telah menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat. 

Merespon permasalahan tersebut, mahasiswa Politeknik Aceh Selatan penerima beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam Generasi Baru Indonesia (Genbi) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di lokasi tersebut dengan memanfaatkan eceng gondok menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik atau kompos. 

Kegiatan kreatif ini dibimbing langsung oleh Direktur Politeknik Aceh Selatan, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc yang juga merupakan Dosen Tetap Prodi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan perdana ini terdiri dari; Riska Farhana, Mega Julianda, Fazliya ulfa,  Cut Keumala zuhra, Alvin Rizki dan Rifal suhendra. 

Menurut Doktor Jebolan Universiti Kebangsaan Malaysia ini, sebenarnya banyak sekali bentuk pemanfaatan yang dapat dilakukan terhadap tanaman jenis gulma berdaun lebar ini. Ada yang pernah memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan, obat-obatan, pakan ternak, pupuk organik, bahan makanan, pembuat kertas, dan masih banyak lagi jika mau di explore. 

Dalam pandangan Yasar sebetulnya kehadiran tanaman ini adalah anugerah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Untuk itu Yasar mengharapkan kepada masyarakat agar merubah masalah ini menjadi peluang baru yang justeru membantu perekonomian masyarakat itu sendiri. Salah satunya kita jadikan ia sebagai kompos karena cara pembuatannya mudah dengan biaya modal yang sangat murah, hanya berbekal kemauan dengan sedikit kerja keras. 

Sungai kita jadi bersih dengan metode penanganan ramah lingkungan, mata pencaharian sebagai penangkap ikan dapat berjalan kembali, petani memperoleh sumber nutrisi tanaman secara organik, dan bisa mendatangkan manfaat ekonomi bila kompos nya diperjual-belikan. Sungguh manfaat yang berkali ganda, ujar Yasar saat menjelaskan bentuk kegiatan yang sedang dijalankan mahasiswanya. 

Kegiatan gerak cepat tersebut langsung mendapat respon positif dari Pemerintah Kecamatan Kluet Utara, Pemerintah Gampong dalam mukim Kuala Ba’u dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) Aceh Selatan. Lebih lanjut Camat Kluet Utara langsung menjadwalkan untuk mengadakan pelatihan pembuatan kompos berbahan eceng gondok tersebut untuk masyarakat melalui kerjasama dengan Politeknik Aceh Selatan. 

Menurut Camat Kluet Utara, Misbah, S.Ag, pihaknya akan memanfaatkan peluang kreatif, inovatif dan inspiratif dari Poltas ini untuk menggerakkan aktivitas BUMG yang diinisiasi oleh pemerintah kecamatan yakni penggabungan beberapa BUMG. Melalui BUMG Bersama yang sedang dirintisnya, Misbah berharap bisa mengelola kegiatan pembuatan kompos ini terutama dalam menampung dan mendistribusikan hasil komposnya sebagai bentuk kegiatan ekonomi produktif. 

Hal ini pun mendapatkan dukungan yang serius dari Kepala DPMG Aceh Selatan, Agustinur. Saat meninjau langsung kegiatan mahasiswa Poltas, Agustinur berjanji untuk mendukung kegiatan pemberdayaan yang sedang dijalankan ini. Bahkan Agustinur berharap, usaha ini betul-betul digarap dengan baik sehingga mendatangkan manfaat untuk desa. Dihadapan para Keuchik, Kadis yang juga berasal dari Desa Kuala Ba'u ini berjanji akan mensupport aktifitas ini karena Agustinur memang sedang konsen dalam menggerakkan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal di seluruh desa yang ada di Kabupaten Penghasil Pala ini.

Reporter: Misran
Editor : Redaksi