Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : PANGLIMA TIBANG MUHAMMAD.

KABARPOS.OPINI,Aceh- saat Aceh berperang dengan belanda, Panglima tibang diperintahkan oleh Sultan Aceh untuk membeli kapal ke Singapura namun sebelum ke Singapura Panglima tibang singgah di Aceh Barat Aceh Timur dan Aceh Utara untuk mengumpulkan dana pembelian kapal tersebut. Namun tetapi setelah dia berhasil mengumpulkan dana tersebut dia tidak berangkat langsung ke Singapura dia menuju ke Riau bertemu dengan salah seorang petinggi Belanda di sana. 

Dari Riau dia berangkat ke Singapura dengan menumpang kapal perang Belanda Sesampai di Singapura tidak jelas Apa yang dilakukannya namun seluruh uang yang dibawa untuk membeli kapal untuk kebutuhan telah habis dipakai panglima tibang. 

Kemudian dia kembali ke Banda Aceh dan melaporkan kepada Sultan bahwa dia gagal melaksanakan tugas untuk membeli kapal sebagaimana yang diamanatkan kepadanya namun Sultan tidak marah kepadanya dan tetap mempercayai panglima tibang  tapi tidak begitu halnya dengan kelompok Habib Abdurrahman yang bersebelahan dengan panglima tibang. 

Akibat Kejadian ini muncullah desas-desus di kalangan masyarakat bahwa Panglima tibang telah berkhianat dan menjual Aceh kepada Belanda sehingga banyak kelompok masyarakat yang mulai benci kepada panglima tibang. 

Namun jika kita melihat fakta sejarah yang terjadi saat itu bahwa terdapat dua kelompok besar di kalangan istana yang saling bertikai yaitu kelompok Habib Abdurrahman yang terdiri dari para Panglima Sagi dan kelompok panglima tibang yang didukung oleh Sultan maka jelaslah terdapat peran Belanda dengan politik adu domba yaitu 

Dengan menyebarkan  fitnah di antara para pembesar-pembesar di kerajaan Aceh untuk saling mencurigai dan memusuhi yang mana akhirnya Belanda dapat dengan mudah menguasai kerajaan Aceh yang sudah sangat rapuh akibat pertikaian intern di dalam kerajaan.  

Namun dapat dicatat bahwa baik Panglima tibang ataupun Habib Abdurrahman, mereka berdua bukan penduduk asli Aceh, mereka  hanya pendatang yang memiliki banyak keberuntungan selama di Aceh sehingga dapat dekat dengan para petinggi istana.

Kiprah panglima Tibang terakhir terlihat ikut serta dalam pasukan Belanda dalam penyerangan benteng Batee iliek disamalanga.