Ticker

6/recent/ticker-posts

Bima Arya Akan Gulirkan Program Plastic Smart Cities di APEKSI


Kabarposnews.co.id Kota Bogor menjadi kota pertama di Indonesia yang mendeklarasikan Plastic Smart Cities. Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, akan menggulirkan program ini juga di forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Hal ini dikatakannya usai melakukan penandatanganan kerja sama deklarasi Plastic Smart Cities antara Pemerintah Kota Bogor dengan Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia di Teras Balai Kota Bogor, Kamis (26/8/2021).

Penerapan Plastic Smart Cities dalam forum APEKSI ini kata dia, secara tidak langsung menjadi semacam tindak lanjut dari pertemuan yang dilaksanakan di Kebun Raya Bogor pada 2018 saat Deklarasi Bogor. 

"Pada saat itu Kota Bogor menjadi motor climate action dan itu akan digulirkan kembali, tetapi semuanya akan menunggu dan direncanakan dimulainya melalui forum-forum yang dilaksanakan APEKSI," katanya. 

Bima Arya menilai, pengurangan sampah plastik yang dilakukan terinspirasi dari kota lain di Indonesia, salah satunya adalah Kota Banjarmasin. 

Di sisi lain, deklarasi Plastic Smart Cities menjadi beban sekaligus tantangan. Bukan tanpa sebab, Bima Arya tidak ingin deklarasi ini hanya sekedar seremoni, tidak diikuti dengan aksi dan tidak menjadi solusi. 

"Pilot project pertama justru akan menginspirasi aksi-aksi yang lain," tegas Bima Arya. 

Bima Arya menambahkan, berdasarkan hasil dari banyak riset menyebutkan sampah plastik bagi kualitas kehidupan begitu nyata. Untuk tindak lanjut dari kerja sama yang telah ditandatangani ini, Bima Arya menginginkan adanya aksi secara langsung untuk berkolaborasi melakukan pengolahan yang sifatnya konkret. 

"Jadi sampah plastik diambil, diolah menjadi apa, dan ini penting. Untuk itu semuanya harus berdasarkan data, pengolahannya berdasarkan data, yang di kolektif berapa, kemampuan berapa dan pengurangannya berapa. Kita berharap ini arahnya ke sana, kita siapkan titik di Bogor, sehingga berkolaborasi dibantu WWF untuk kemudian menjadi plastic to energy. Jadi ujungnya adalah energi, mengolah masalah sampah menjadi berkah," ungkapnya.

Ia juga berharap dan menginginkan agar program Plastic Smart Cities berhasil dengan baik, sehingga bisa di duplikasi dan menginspirasi kota-kota yang lainnya di Indonesia. 

Untuk keberlanjutan program Plastic Smart Cities, Bima Arya mengingatkan para pimpinan dinas terkait agar semua harus ada angkanya, baseline (garis dasar), mulai dari angkanya berapa, metodenya seperti apa dan outputnya berapa. 

"Hal pertama yang dibantu dari Plastic Smart Cities adalah merapikan data-data yang ada dan kedua adalah mengolahnya menjadikannya energi," sebutnya.

Untuk yang kedua menurutnya, merupakan tantangan yang tidak mudah, tetapi Kota Bogor siap karena sebelumnya sudah 'mengintip' praktek inovasi yang sama di Pulau Seribu dan di Bali. 

"Kami ingin mereplikasi dan memodifikasinya di Kota Bogor dengan bantuan semua pihak," katanya.

Disinggung data sampah plastik selama masa pandemi, Bima Arya menjawab ada pengurangan sebesar 30 persen. Pengurangan tersebut jelas Bima dikarenakan beberapa hal di antaranya  kemungkinan karena kebijakan yang dibuat dan melambatnya unit-unit ekonomi.

Ketua Badan Pengurus Yayasan WWF Indonesia, Alexander Rusli menyampaikan bahwa sampah plastik memiliki dampak langsung kepada kondisi kehidupan. 

"Jadi memang Plastic Smart Cities ini membutuhkan dukungan banyak pihak untuk mencapai target atau hasil yang diharapkan. Di sini Wali Kota Bogor terlihat menggunakan inisiatif sendiri untuk memberikan ini lho koridor atau standarnya, tinggal dilengkapi dengan sosialisasinya," kata Alexander Rusli.
Editor Redaksi