Ticker

6/recent/ticker-posts

Pelatihan Satpol PP Se- Indonesia, Bima Arya Ajak Baca Situasi Psikologis Masyarakat


KABARPOSNEWS.CO.ID.Wali Kota Bogor, Bima Arya yang juga Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) membuka Pelatihan Nasional Komunikasi Empatik dan Efektif Satpol PP Se- Indonesia yang dilaksanakan secara virtual.
Bima Arya menyampaikan dan mengajak semua peserta untuk terus melihat kondisi dibawah dan bisa membaca situasi psikologis kebatinan masyarakat.
"Hari ini mari kita lihat kondisi kebatinan dan situasi psikologis rakyat Indonesia di seluruh wilayah, tidak ada yang mudah. Jadi, saya melihat kemampuan melihat hal tersebut menjadi kunci utama di masa pandemi ini," katanya di Balai Kota Bogor, Jumat (6/8/2021).

Dalam menyampaikan himbauan atau yang lainnya kata Bima Arya, lakukan secara komunikatif dan efektif setiap kebijakan.
"Kita melihat banyak situasi berat yang dialami warga, yang belum tahu bagaimana untuk menjalani kehidupannya dan menjadi sangat sensitif jika sudah urusan perut, urusan rezeki, urusan dapur," kata Bima Arya

Memadukan antara ketegasan dan kasih sayang di tengah kondisi saat ini menurut dia menjadi tantangan bagi semua. Tidak sedikit pihak-pihak di lapangan yang sangat ingin terlihat tegas tapi dengan cara yang salah atau sebaliknya. Selain itu banyak yang terlalu lembut, sehingga tidak bisa tegas, padahal setiap wilayah memiliki regulasi atau peraturan yang harus ditegakkan.
Bima Arya menekankan, kepemimpinan merupakan seni untuk memadukan ketegasan dan kasih sayang. Ketegasan tanpa kasih sayang adalah kezaliman dan kasih sayang tanpa ketegasan adalah kelemahan.

Dirinya mengakui pelaksanaannya tidaklah mudah, namun pemimpin sejati harus bisa memadukan atau bisa mendeteksi kapan ketegasan bisa diperlukan dan kapan kasih sayang itu dipancarkan.
"Seringkali setiap aparat ingin terlihat atau terkesan tegas, namun tanpa disadari bahwa ketegasan tersebut tidak diiringi wibawa dan kemudian maksud yang diingin tidak tersampaikan, karena orang tidak menangkap apa makna ketegasannya. Sebaliknya, kadang juga terlalu lembut, terlalu 'baper' atau terlalu 'bicara' dengan hati," paparnya.

Selain ketegasan dan kasih sayang yang dilakukan dalam tugas sehari-hari, Bima Arya juga menerangkan tentang kewibawaan dan kekuasaan. Menurutnya banyak yang menafsirkannya secara sempit.
"Yang utama menurut saya adalah wibawa itu harus terpancar dari hati nurani yang tidak bisa dibohongi dan dikuatkan oleh konsistensi. Kita memiliki wibawa dimata orang lain ketika orang menangkap bahwa kita memiliki itikad yang bagus, ketika orang percaya bahwa kita bermaksud baik. Wibawa itu teruji karena dikuatkan oleh konsistensi, jika berubah-ubah maka wibawa tidak akan pernah didapat. Jadi dibunyikan oleh hati dan teruji oleh konsistensi," tegas Bima Arya.

Satpol PP, sebut Bima Arya, memiliki modal-modal tersebut. Jika dilaksanakan dengan baik dan konsisten menyampaikan dengan bahasa yang halus, mengingatkan dengan cara yang pas, maka warga atau rakyat akan percaya bahwa aparatur memiliki niat baik sehingga pesannya tersampaikan.
Mengenai kekuasaan, Bima Arya menyampaikan cara seseorang menafsirkan dan menjalankan kekuasaan sangat menentukan marwah dan wibawa. Kekuasaan bisa dijalankan dengan dua hal, yakni paksaan dan kesepakatan (konsensus).
"Kekuasaan yang dilakukan dengan paksaan, mungkin bisa membuat orang jadi penurut, tidak langgeng. Sementara dengan kesepakatan akan langgeng. Untuk itu kepada Satpol PP Kota Bogor saya harapkan dalam bertugas tidak boleh menerapkan kekuasaan dengan cara paksaan, bisa saja diterapkan tapi bagi oknum atau pihak yang melanggar hukum," tegasnya.
Dalam menjalankan tugas yang penting kata wali kota, perlu adanya penguatan terus menerus, tidak sekedar latihan fisik semata tapi moril, mental dan perspektif juga penting untuk merawat hati agar tetap memancarkan konsistensi yang bisa dipercaya oleh rakyat semua.
"Tentunya bervariasi di lapangan, tapi setidaknya jalankan tugas dengan niat hati tulus, ikhlas, Insya Allah kita akan naik kelas. Pandemi ini bukan hanya ujian kesehatan, tapi juga kepemimpinan, keimanan bagi kita semua," pungkasnya.
Editor : Redaksi