Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI: BERLIAN KEHIDUPAN YANG BERKILAU


Opini Kabarposnews.co.id.Namanya Sukardi, seorang guru honorer di Lombok Tengah. Sudah 25 tahun dia mengabdi sebagai guru honorer. Dia sempat bekerja
di perkebunan dengan gaji Rp 8 juta per bulan. Tapi hanya dalam hitungan minggu, dia tak tahan dan kembali mengajar di sekolah sebagai guru honorer dengan gaji jauh lebih kecil.

Tapi Sukardi menjalaninya. Dia menempuh jalan sempit, jalan derita, jalan pengorbanan itu. Sebab di jalan itulah sebuah panggilan hidup terus menyapa telinga hatinya. Sebuah panggilan hidup untuk mencerdaskan generasi penerus. Sebuah panggilan untuk melayani kehidupan. 

Pada titik itulah kesulitan dan penderitaan, bahkan pengorbanan sekalipun menjadi indah. Keringat menjadi butiran mutiara kehidupan. Air mata menjadi butiran berlian kehidupan.

Maka mutiara dan berlian itu menemani hari-harinya dengan indah. Pernah suatu kali dia diberhentikan polisi karena helmnya rusak, dan ternyata polisi itu adalah mantan muridnya. Alih-alih ditilang, polisi itu malah memberi uang untuk membeli helm baru. Bukankah itu mutiara ? Bukan bebas tilang itu, atau uang itu yang mutiara. Bukan. Tapi Sukardi telah ikut membentuk seorang polisi yang manusiawi. Yang menjalankan tugasnya dengan hati. Polisi yang punya respek dan budi pada orang yang layak menerimanya, yaitu sang guru.

Sukardi juga pernah bertemu dengan muridnya yang sudah menjadi Kepala Sekolah. Tentu ada bangga, tapi juga malu. Bangga karena muridnya sukses, tapi malu karena dia sendiri masih berstatus guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR. Namun malu itu terselip jauh di bawah rasa syukur karena dia sudah membentuk muridnya mejadi sebutir berlian kehidupan yang jauh lebih berkilau dari dirinya sendiri.

Semuanya adalah kisah indah dan mengharukan. Dan kini, setelah 25 tahun berjuang - Sukardi beserta 173.329 guru honorer lainnya berhasil lolos seleksi menjadi ASN P3K. Kini giliran semua muridnya yang menatap Sukardi dengan bangga. Sukardi, berlian kehidupan yang sangat berkilau.

By : HT

Diolah dari surat terbuka Nadiem Makarim.
Editor Redaksi