Ticker

6/recent/ticker-posts

Produsen kimia terbesar di dunia asal Jerman, Badische Anilin- und SodaFabrik (BASF)

Kabarposnews.co.id.Produsen kimia terbesar di dunia asal Jerman, Badische Anilin- und SodaFabrik (BASF) disebut berminat untuk berinvestasi dan membangun pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, lokasi di Indonesia yang dibidik untuk pendirian pabrik tersebut ada di Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Keinginan BASF itu, kata Bahlil, didapat saat dirinya bertemu BASF di tengah kunjungan kerja ke Frankfurt, Jerman belum lama ini.

Minat ini pun langsung disambut oleh Bahlil. Bahkan, ia berjanji akan membantu BASF dalam merealisasikan rencananya itu.

“Kami akan dukung penuh rencana investasi BASF ini. Terkait perizinan dan insentif investasi, kami yang akan urus. Kita akan kawal terus sampai beres,” kata Bahlil dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (10/10).

Rencananya, BASF ingin masuk ke Indonesia melalui kerja sama dengan Eramet, perusahaan pertambangan asal Prancis.

Nantinya, mereka akan membangun fasilitas pemurnian alias smelter nikel dan kobalt yang merupakan bahan baku baterai listrik.

Proyek itu mencakup pembangunan pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Base Metal Refinery (BMR). Namun demikian, Bahlil meminta BASF tidak hanya sekadar membangun pabrik dan smelter nikel, tapi juga memproses bahan tersebut hingga benar-benar menjadi baterai listrik.

Walaupun begitu, belum ada penjelasan rinci soal angka investasi yang bakal masuk ke Indonesia.

Sejauh ini, rencana perusahaan baru menargetkan kapasitas produksi, yaitu sekitar 42 ribu metrik ton nikel per tahun dan 5.000 metrik ton kobalt per tahun.

Anggota Board of Executive Director BASF, Markus Kamieth mengapresiasi sambutan dari Bahlil dan berharap pemerintah dapat pula mendukung kawasan industri independen tersebut dengan pasokan listrik yang memadai dan berasal dari energi terbarukan. 

Sumber [Industry.co.id]
Editor Redaksi