Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : BUKAN JENDERAL SEMBARANG JENDERAL..

Opini Kabarposnews.co.id.Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Ri*ieq, itu perintah saya. Karena beberapa kali Pol PP menurunkan, dinaikkan lagi. Perintah saya itu,". Kalimat itu adalah pernyataan Pangdam Jaya Mayjend Dudung November tahun 2020.

"Jangan coba-coba pokoknya. Kalau perlu F*I BUBARKAN SAJA itu!! Bubarkan saja. Kalau coba-coba dengan TNI, mari. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur, suka-sukanya sendiri. Ingat ya, saya katakan itu perintah saya. Dan ini akan saya bersihkan semua. Tidak ada itu baliho-baliho yang mengajak revolusi dan segala macam." lanjut Dudung.

Hari ini, 17 November 2021 tepat 1 tahun berlalu, Dudung telah dilantik menjadi Jendral berbintang 4. Dia secara resmi dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jendral Andika Perkasa yang dilantik menjadi Panglima TNI.

"Apa sih nilai lebih yang dia miliki sehingga pantas menjadi Kasad?"

Menelisik fakta bahwa Densus 88 belakangan ini sukses melakukan banyak penangkapan tersangkat teror*s, ini tentu bukan kebetulan belaka kenapa seorang Dudung lah yang pada akhirnya harus menduduki posisi itu. Ada tali temali terkait.

Perang terbuka pada kawasan kita tak ada tanda akan terjadi dalam waktu dekat ini. Bila waspada kita harus kita fokuskan, itu ada pada kawasan Laut China Selatan. 

Kawasan itu memang terasa semakin panas dengan terbentuknya Aukus yakni kerja sama 3 negara Australia, Inggris dan Amerika Serikat dalam bidang militer. 

Bila aroma dibentuknya Aukus adalah untuk menandingi dominasi China pada kawasan Laut China Selatan, tentu ini merupakan sinyal waspada kita. Itu kawasan dimana sebagain milik kita menempel di sana. Natuna...

Marah China pada lahirnya persekutuan baru itu bukan mustahil justru akan semakin membuat panas kawasan yang sudah dekat dengan mendidih.

Geografi posisi Indonesia benar-benar berada ditengah Australia dan China. China di utara dan Australia di selatan. Dengan hadirnya kekuatan militer Inggris dan Amerika di Australia, itu adalah sesuatu. Kita berada tepat di tengah-tangah dua kekuatan militer terbesar di dunia yang sedang saling ejek.

Ketika dua kekuatan yang sama kuat bertemu, saling pukul secara langsung justru tak akan terjadi. Konfrontasi secara terbuka tak akan menjadi pilihan. Saling intip keduanya akan sering kita dengar. 

Dimanakah tempat paling tepat menjadi ajang intip mengintip, tentu di tengah-tengah. Ya, itu Indonesia. Posisi Indonesia yang bebas aktif dan tak berpihak akan terus digeret untuk turut menjadi salah satu pihak. Proxy China maupun Aukus akan melakukan gerilya demi mendapat simpati Indonesia.

Perang terbuka tak akan terjadi di kawasan, sebagai gantinya, perang pengaruh akan berkecamuk di negara kita. 

Dan itu sudah terjadi. Pemerintahan Jokowi seolah dituduh pro China dan barat seolah berada di balik radikalisme menjadi tema dari keseharian perang kita, ribut kita pada sesama anak bangsa.

"Trus apa hubungannya dengan pengangkatan Jenderal Dudung?"

Saat menjabat sebagai Panglima Kodam dia cepat mencium gelagat tak baik telah terjadi dan kita seolah hanya melihat dia yang tegas dengan perintah turunkan baliho. 

Kita hanya mampu melihat kulit luar peristiwa itu.

Dan lihat apa pengaruh dari tindakan beraninya. Tak butuh waktu lama, dua Kapolda dan banyak Kapolres dimutasi. 

Paling tidak, tak lama setelah peristiwa itu terjadi, Kapolda Metro, Kapolda Jawa barat, Kapolres Jakarta pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi, Tangerang Selatan hingga Kapolres Tangerang dimutasi bukan?

Paling tidak, setelah perintah menurunkan baliho dilaksanakan, perlawanan berani rakyat pada kelompok intoleran itu semakin menggema kan? 

Paling tidak, efpei kemudian dibubarkan dan Rijik menjadi DPO dan akhirnya sukses menjadi terpidana, itu ada kaitan erat atas Dudung berani memulainya. Dudung memgambil tameng posisi Presiden yang gagal dipakai oleh mereka yang memiliki tupoksi dalam dbidang hukum saat itu.

Itu tak mungkin terjadi bila Jenderal Dudung tak memiliki kapasitas mumpuni dalam bidang intelejen. Itu pun tak mungkin terjadi bila dia tak punya nasionalisme super kuat. Dan itu dia buktikan saat mengambil posisi berbahaya bagi karirnya saat semua pihak sedang wait and see.

Terlihat dengan jelas bahwa Jenderal Dudung memiliki kemampuan sangat baik dalam menilai situasi. Dia memilik kapasitas hebat saat menghadapi dan kemudian menempatkan dirinya pada kondisi seperti itu.

Dia sangat mampu membaca ancaman, baik dalam rupa radikalisme maupun separatisme. Dia paham dan sadar dengan model perang kekinian dimana perang asimetris hingga perang hibrida di luar perang konvensional adalah jenis kebaruan sebuah perang yang dapat hadir setiap saat. Dia hadir untuk kondisi seperti itu.

Dia memang sosok yang tepat duduk pada posisi itu.

RAHAYU
.
Karto Bugel