Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI: INDONESIA JUSTRU NAIK PANGKAT SAAT PRESIDENNYA TAK DIPERCAYA OLEH SEBAGIAN WARGANYA SENDIRI


OPINI KABARPOSNEWS.CO.ID Pada Desember 2021, penduduk Bulgaria yang konon nasib ekonominya tak begitu baik dibanding banyak tetangganya sebagai bagian dari eropa, berbondong-bondong melintasi perbatasan barat Turki. 

Dengan menggunakan mobil pribadi hingga bus yang penuh sesak, mereka terlihat menyerbu Turki. Mereka hendak membelanjakan uangnya di Turki. 

Sesekali, orang-orang Bulgaria itu ingin ingin merasa bahwa mereka pun mampu memborong. Pada musim Natal 2021 Turki memberi rasa bahwa mereka adalah orang-orang kaya, orang yang mampu membeli lebih dari yang dibutuhkan.

Harga-harga murah seiring anjloknya mata uang Lira membuat hal itu menjadi masuk akal. Lira Turki jatuh pada titik paling parah. Dan itu dimanfaatkan oleh rakyat Bulgaria.

Januari tahun yang sama atau 10 bulan sebelumnya, 1 dolar masih seharga 7-8 lira. Pada Desember, pada situasi paling kelam nasib mata uang negara itu, 1 dolar harus dibeli dengan harga 16 hingga 17 lira. Itu benar-benar seperti terjun bebas.

Itu seperti kemarin 1 kg bawang putih seharga 1 dolar dan hari ini dengan uang yang sama bisa dapat 2.5 kg. Luar biasa sangat murah.

Kemerosotan lira Turki itu berujung pada pencopotan menteri keuangan negara itu pada Desember 2021. Erdogan menerima pengunduran diri menkeu Turki Lutfi Elvan dan menunjuk Nureddin Nebati sebagai penggantinya.

Bukannya membaik, pada Desember itu juga mata uang lira kian anjlok. Konon itu justru terjadi setelah Erdogan mengutip dan memasukkan konsep dari ajaran agama guna membenarkan keputusannya untuk tak menaikkan suku bunga demi menstabilkan mata uang.

Erdogan membuat bank sentral Turki menurunkan biaya pinjaman secara tajam meski tingkat inflasi tahunan negara itu melonjak lebih dari 20 persen saat itu.

Serta merta, para ekonom langsung memproyeksikan bahwa kebijakan Erdogan itu akan mengantarkan inflasi Turki tembus 30 persen atau lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Dan benar, angka Inflasi Turki menembus level tertinggi selama 20 tahun terakhir yakni  61,14 persen pada Maret 2022. Itu hanya berjarak 3 bulan dari peringatan para ahli ekonomi tersebut.

Lira Turki hari ini dihargai 14-15 setiap dolarnya. Namun Inflasi Turki yang menembus angka di atas 60 persen jelas tanda bahwa negeri itu tak sedang baik-baik saja.

Seperti jatuh dan lalu tertimpa tangga, invasi Rusia menambah beban itu. Inflasi di negara itu melompat kian tinggi akibat dari naiknya harga energi dan harga komoditas sebagai imbas perang Rusia-Ukraina sejak 24 Februari yang lalu. 

Turki memang sedang tak sehat. Ya, jauh sebelum inflasi menembus 61 persen, ekonomi negara pimpinan Recep Tayyip Erdogan itu pun sebenarnya memang sudah terguncang. Bahkan sejak beberapa tahun lalu. 

Sejak 1 tahun yang lalu pun inflasi Turki sudah meroket di atas 16 persen akibat kebijakan moneternya yang aneh hingga bukti gonta-ganti gubernur bank sentral nya.

Konon setelah Naci Agbal lengser dari kursi gubernur bank sentral secara tiba-tiba, mata uang lira rontok secara berjamaah. Rakyat Turki ramai-ramai menjual Lira miliknya.

Agbal dicopot hanya berjarak empat bulan dari saat dia menjabat sebagai gubernur bank sentral. Empat gubernur bank sentral diberitakan juga telah diganti sebelum Agbal dipecat. 

Inflasi itu telah membuat warga Turki jadi lebih miskin. Harga-harga makanan naik bahkan hingga lebih dari 70 persen, sementara ongkos transportasi pun harus ikut meroket hingga lebih dari 90 persen.

Bayangkan bila Turki adalah Indonesia dan Erdogan adalah Jokowi, selesai sudah negeri ini. Minyak goreng yang sempat hilang dan naiknya Pertamax sebagai BBM non subsidi saja sudah mampu membuat wacana turunkan Jokowi bukan?

Bila di Indonesia kedelai naik maka rakyat marah, di Turki harga tomat yang melonjak membuat mereka ngamuk. Hidup rakyat Indonesia yang akan terasa hampa tanpa tahu dan tempe, di Turki, tomat membuat hal yang sama. Harga tomat saat ini naik hingga 75 persen.

Membayangkan Rupiah menjadi 20 ribu per dolar, tempe naik 70 persen, beras perkilo termurah jadi 15 ribu, pertalite jadi 10 ribu, gas melon jadi 30 ribu hingga daging sapi dan ayam naik di atas 50 persen, rusuh sudah negara ini.

Beruntung itu tak terjadi. Rupiah kita relatif stabil bahkan seringkali justru mampu melibas keperkasaan mata uang AS.

Pun inflasi di dalam negeri yang masih relatif terjaga di angka 2,6  persen. Masih relatif perkasa bahkan jika dibandingkan beberapa negara lain seperti Amerika Serikat 7,9 persen, Uni Eropa 7,5 persen dan banyak negara lain yang prediksinya masih kian merangkak naik.

Ya, itu tak mungkin terjadi tanpa kerja keras pemerintah. Itu tak mungkin bisa dicapai oleh orang dengan kapasitas kaleng-kaleng. Itu LUAR BIASA sebagai pencapaian. Seharusnya itu adalah tolok ukur bahwa negara ini telah dikelola dengan benar oleh orang yang tepat.

Bahkan, oleh PBB, baru-baru ini, Indonesia diakui sebagai satu dari sedikit negara yang dianggap sukses pada situasi dunia yang makin tak menentu itu.

Itu terbukti dengan terpilihnya Presiden Joko Widodo menjadi salah satu anggota Champion Group of the Global Crisis Response Group (GCRG).

Sekjen PBB  Antonio Guterres, pada Rabu (13/4/2022) mengumumkan terpilihnya Presiden Joko Widodo bersama Presiden Senegal, Perdana Menteri Barbados, Perdana Menteri Denmark, Perdana Menteri Bangladesh, dan Kanselir Jerman.
menjadi anggota GCRG.

Dan perhatikan, tujuan pembentukkan grup ini adalah untuk mendorong konsensus global dalam mengadvokasi solusi di bidang krisis pangan, energi, dan keuangan global. 

Siapakah dianggap mampu mendorong dan kemudian mengadvokasi krisis pangan, energi dan keuangan global bila tak dianggap telah membuktikannya?

Itu terkait bukti bukan janji. Itu terhubung jelas dengan bukti pencapaian dan kerja keras bangsa ini pernah melaluinya.

Selama 12 bulan ke depan, Indonesia adalah satu dari enam grup Champions tersebut.

Serius masih pingin lengserin Jokowi?
.
.
Sumber : Karto Bugel/ Rahayu.
Reporter : SHT
Opini