Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : K E T U P A T Bukan Ciptaan Sunan Kalijaga ?

OPINI KABARPOSNEWS
CO.ID Menyoal banyaknya artikel yang menyatakan bahwa ketupat ( kupat ) baru muncul pada abad-15 atas prakarsa Sunan Kalijaga sebagai media penyebaran agama Islam,sepertinya informasi seperti ini terlalu berlebihan dan perlu untuk di luruskan. 

Karena sejatinya,keberadaan Kupat telah ada jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga lahir dan sudah menjadi sarana untuk melakukan upacara keagamaan Syiwa Buddha di Jawa maupun di Bali. 

Pelurusan ini penting artinya agar masyarakat bisa melihat sejarah dengan kacamata yang obyektif,tidak terkungkung oleh informasi bias demi sekedar memuaskan satu kepentingan tertentu dengan mengaburkan sejarah itu sendiri.

Kupat,demikian nama asli makanan yang terbuat dari beras yang di bungkus janur kuning tersebut,dalam bahasa Jawa Kawi berarti bungkus. 

Tidak ada arti yang lain. 
Ini bisa di pahami ketika melihat bentuk dari penganan Kupat sendiri yang berbahan beras lalu di bungkus dengan menggunakan janur kuning yang di anyam dengan apik,untuk kemudian di masak hingga matang. 

Kata Kupat bisa di lihat dalam banyak Lontar Jawa Kuno,salah satunya kutipan lontar Subhadrawiwāha : 27:8 di bawah ini :

..Hetunya n pangutus huminyjêmi kitā-KUPAT-a yaśa niking prayojana..

Terjemahan :
"..Disebabkan oleh perintah untuk mendatangi,maka dirimu ber-BUNGKUS-lah agar supaya tercapai tujuan.."

Lontar Subhadrawiwāha sendiri di perkirakan di buat pada masa Majapahit.

Di Bali,nama Kupat di ucapkan menjadi Tipat. 

Dan di Bali terdapat satu catatan yang bisa di jadikan rujukan kuat bahwa Tipat atau Kupat sudah menjadi bagian ritual masyarakat Bali jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga lahir ke dunia pada sekitar 1450 Masehi. 

Dalam Lontar Tabuh Rah Pêngangon yang tersimpan di Desa Kapal,Mengwi,Badung, Bali, di kisahkan. 

Ketika Prabhu Asṭasura Ratnabhumi Bantên menduduki tahta Kerajaan Bedahulu menggantikan kakaknya, Śri Walajaya Kêrtaningrat yang meninggal pada Syaka Warsa 1259 (1337 M), beliau lantas mengangkat seorang patih bernama Ki Kêbo Taruna atau Ki Kêbo Iwa. 

Setahun kemudian,Prabhu Asṭasura Ratnabhumi Bantên mengutus Ki Kêbo Iwa untuk memperbaiki tīrtha atau tempat suci di Kahyangan Puruṣada yang berada di Desa Kapal.

Berangkatlah Ki Kêbo Iwa diiringi oleh Pasêk Gelgel, Pasêk Tangkas, Pasêk Bêndesa dan Pasêk Gaduh menuju Kahyangan Puruṣada di Desa Kapal dengan terlebih dahulu menuju Desa Nyanyi untuk mengambil batu bata sebagai bahan untuk perbaikan. 

Pembangunan dimulai pada Syaka Warsa 1260 atau 1338 M. 

Usai perbaikan di lakukan, mendadak saja Desa Kapal terkena paceklik hebat. 

Tergerak oleh kegelisahan,Ki Kêbo Iwa lantas bermohon jalan keluar kepada Sanghyang Agung dengan melakukan yoga semadhi di Kahyangan Puruṣada yang baru selesai di perbaiki. 

Tidak sia-sia permohonan yang di lakukan, Ki Kêbo Iwa lantas mendapatkan pawisik dari Sanghyang Śiwa Paśupati agar segera melaksanakan Aci Rah Pêngangon atau Aci Rare Angon dengan sarana utama mempergunakan Tipat-Bantal sebagai lambang Puruṣa ( Kesadaran Semesta ) dan Pradhāna ( Bahan Cikal Bakal Semesta ). 

Puruṣa adalah lambang dari Bapa Semesta sedangkan Pradhāna adalah lambang dari Ibu Semesta. 

Dari penyatuan Puruṣa dan Pradhāna maka lahirlah semesta raya ini. 

Tipat-Bantal sendiri adalah jenis panganan dari nasi yang di bungkus janur kuning dengan bentuknya yang berbeda. 

Tipat berbentuk segi empat sedangkan Bantal berbentul bulat panjang,Tipat adalah simbol dari Pradhāna, sedangkan Bantal adalah simbol dari Puruṣa. 

Usai mendapat pawisik, akhirnya di laksanakanlah Aci Rah Pêngangon di Desa Kapal. 

Begitu upacara usai di laksanakan maka terbukti paceklik segera menghilang, tidak lagi datang menyambangi. 

Dan upacara tersebut masih tetap di lakukan hingga hari ini. 

Itu artinya upacara tersebut sudah di jalankan sepanjang 700 tahunan,di laksanakan  pada setiap Sasih Kapat  kalender Syaka Bali, atau sekitar bulan September – Oktober, dengan tetap mempergunakan sarana Tipat-Bantal.

Pelaksanaan Aci Rah Pêngangon pada 700 tahun yang lalu, atau 112 tahun sebelum Sunan Kalijaga lahir cukup menjadi bukti bahwa Kupat atau Tipat atau Ketupat sudah ada jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di Jawa. 

Tidak menutup kemungkinan, budaya kuliner Tipat di ambil oleh masyarakat Bali dari budaya Jawa mengingat hubungan Jawa-Bali pada masa Jawa Kuno sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. 

Hingga hari ini,Tipat masih menjadi sarana penting untuk melakukan upacara keagamaan di Bali,tidak hanya dalam pelaksanaan Aci Rah Pêngangon saja. 

Dengan kata lain,Tipat masih di pergunakan dalam fungsi yang sama seperti dahulu kala sebagaimana pernah berlaku di Jawa sebelum Jawa beralih menjadi Islam. 

Pada kelanjutannya,Kupat di Jawa di adopsi oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana syi’ar Islam dan di munculkan ketika tujuh hari usai 1 Syawal atau usai Hari Raya Idul Fitri. 

Oleh karenanya wacana yang dengan berani memaparkan bahwa Kupat adalah ciptaan Sunan Kalijaga, tentu tidak bisa di benarkan. 

Sunan Kalijaga hanya mengadopsi dan mengalihfungsikan Kupat dari fungsi awalnya sebagai sarana upacara Syiwa Buddha pada masa Jawa Kuno menjadi media syi’ar Islam untuk berbagi maaf selepas tujuh hari usai 1 Syawal atau Hari Raya Idul.

Sumber : Damar Shashangka
15 Juni 2018
Rahayu
Reporter : SHT