Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI: Memilah Agama dan Budaya

Opini Kabarposnews.co.id Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi, lalu ada yang mencatat dan memasukkan itu dalam buku hadis, tiba-tiba siwak menjadi ajaran agama. Sekarang masih banyak yang anggap siwak adalah sunnah yang harus diikuti. Itu salah kaprah.

Bagaimana jika saat Nabi bicara, “Kalau keluar kota naiklah unta,” lalu ada yang mencatat dan memasukkan sabda itu dalam buku hadis? Apakah naik unta jadi ajaran agama?

Atau misal saat Nabi bicara, “Kalau masak, pakailah kayu bakar dari kayu apel karena kayu apel adalah kayu paling bagus,” lalu sabda Nabi itu dicatat dan masuk buku hadis, apakah lalu kita harus ikut memasak memakai kayu bakar karena itu kita anggap sunnah Nabi dan ajaran agama?

Perbedaan kasus siwak dengan kasus unta dan kayu bakar hanyalah ucapan Nabi itu ada yang mencatat dan tidak. 

Namun hanya karena itu (ada yang mencatat dan tidak), saat ini jadi ada yang merasa bahwa memakai siwak adalah ajaran agama Islam.

Apa benar siwak itu salah satu pesan Allah yang dititipkan lewat Nabi? Kalau kita mau berpikir jernih dengan pikiran terbuka, pasti akan mendapat jawaban yang jelas bahwa ajarannya bukan terletak pada siwaknya, melainkan membersihkan giginya.

Kenapa jadi siwaknya?

Saat itu Nabi pakai siwak itu ya karena memang siwak adalah pembersih gigi atau rongga mulut yang paling bagus saat itu, di tempat itu. Tapi apakah itu berarti berlaku sepanjang masa? Tentu tidak.

Dari contoh itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa seharusnya tak semua yang tercatat dalam buku hadis adalah ajaran agama. Sehingga kita harus berpikir lagi untuk bisa memilah mana hadis Nabi yang merupakan ajaran agama dan mana yang hanya sekadar budaya saat itu.

Ketika Nabi mengajarkan naik kuda dan memanah sebagai keahlian bela diri saat itu, apakah berarti umat Islam saat ini harus belajar berkuda dan memanah? 

Ketika Nabi mengajarkan sebuah resep masakan yang beliau makan saat itu, apakah resep itu sebuah ajaran agama?

Saat ini sudah saatnya bagi kita untuk bisa memilah dan berusaha memahami, mana sunnah Nabi sebagai ajaran agama, dan mana tindakan Nabi yang berdasarkan budaya atau teknologi saat itu. 

Faktanya, saat ini banyak hadis Nabi tentang budaya yang dianggap bagian dari ajaran agama.

Alangkah terperangkapnya kita pd kebudayaan arab dan teknologi pada masa itu, jika tak bisa memilah mana ajaran agama dan mana budaya.

Perintah Nabi, bukan berpakaian seperti orang arab, tapi agar menutup aurat. Kita boleh pakai sarung, dan ttp berarti menjalankan perintah Nabi.

Perintah Nabi, bukan kita belajar memanah, tapi agar kita belajar bela diri, survival dan kemampuan berburu. Kita boleh belajar senapan atau senjata api, dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi.

Perintah Nabi, kita menjaga kebersihan termasuk kebersihan tubuh. Kita tak harus pakai wewangian arab atau pun siwak, kita punya banyak pilihan parfum saat ini dan juga sikat dan pasta gigi. Dan semua kita jalankan sebagai perintah Nabi.

Begitu juga dengan berbicara memakai bahasa Arab, apakah itu juga merupakan ajaran agama? Misalnya, di kalangan umat Islam Indonesia banyak yang punya budaya mengucapkan selamat atau ucapan yang lain dengan bahasa arab.

Apakah memberi ucapan “barakallah fi umrik” saat ulang tahun itu lalu seketika menjadi bagian dari ajaran Islam? Tentu tidak. 

Punya kemampuan berbahasa arab tentu bagus. Tapi kalau mengesankan itu lebih islami, itu yang tidak benar.

Ketidakmampuan membedakan—mana perintah agama dan mana budaya—hanya akan menjebak umat Islam pada masa lalu dan ada yang jadi kearab-araban—yang bahkan orang muslim arab sekarang pun sudah tak seperti itu— Itulah kenapa sering kali orang Indonesia kini justru lebih arab dari orang Arab.

Sumber : Hasyim Muhammad.
Reporter : SHT
Editor Redaksi