Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : SEJARAH KEMATIAN GAJAH MADA


Opini Kabarposnews.co.id Sering kita mendengar berita simpang siur perihal kematian Patih Gajah Mada. 

Ada yang bilang lenyap,muksa, naik ke langit, pergi ke luar Jawa, bahkan ada yang bilang Gajah Mada masih hidup hingga sekarang.

Ketika ditanya,sumbernya dari mana ? 
Jawabnya : tidak tahu, pokoknya begitu.

Saya lebih suka menelusuri berita dalam naskah kuno daripada percaya pada gugon-tuhon. 

Paling tidak ada tiga versi yang  terkait kematian Gajah Mada, yaitu :

VERSI KIDUNG SUṆḌA

Dalam versi ini di kisahkan Gajah Mada sangat berkuasa di Majapahit, bahkan Śrī Hayam Wuruk segan kepadanya. 

Ketika Raja Suṇḍa datang ke Majapahit untuk menikahkan putrinya dengan Śrī Hayam Wuruk, Gajah Mada berani menentang dan memaksa agar putri Suṇḍa di serahkan sebagai wanita persembahan. 

Tentu saja pihak Suṇḍa menolak. 
Pertempuran terjadi dan mengakibatkan raja Suṇḍa gugur di lapangan Bubat. 

Melihat ayahnya tewas, putri Suṇḍa melakukan "bela pati" menikam diri sendiri. 

Śrī Hayam Wuruk sangat berduka karena calon istrinya tewas. 
Ia pun jatuh sakit dan meninggal pula. 

Gajah Mada di salahkan sebagai penyebab kematian Śrī Hayam Wuruk. 

Rumahnya segera di kepung pasukan Majapahit. 
Gajah Mada bersemadi di halaman kemudian musnah raganya,naik ke langit menjadi dewa. 

Sejak itu ia dikenal dengan sebutan Lĕmbu Mukṣa.
(ñjĕnĕng ing natar amuṣṭi, mukṣa tan patinggal rāga, mantuk ing niskalajāti, waluya dewa malih ).

VERSI PARARATON

Kisah pertempuran Bubat juga di kisahkan dalam versi ini, tetapi Gajah Mada tidak bertindak sendiri. 

Dia lebih dulu melapor kepada orang tua Śrī Hayam Wuruk. 

Setelah memperoleh restu dan juga dukungan dari Bhre Wĕngkĕr, barulah Gajah Mada bertindak menghadapi orang-orang Suṇḍa yang menolak menyerahkan sang putri sebagai wanita persembahan.

Setelah peristiwa Bubat berakhir, Śrī Hayam Wuruk menikah dengan putri Bhre Wĕngkĕr yang berjuluk Padukaśori. 

Adapun Gajah Mada "amukti palapa",menikmati kesenangan dan istirahat.

Pararaton menyebut peristiwa Bubat terjadi pada 1357, sedangkan Gajah Mada meninggal pada 1368,dan Hayam Wuruk meninggal pada 1389. 

Jadi,sangat berbeda dengan versi Kidung Suṇḍa dan juga Kidung Suṇḍāyana.

Kematian Gajah Mada dalam Pararaton hanya di sebut dalam satu kalimat, yaitu :

"sang apatih gajah mada atĕlasan i śaka gagana-muka-matendu, 1290."
(tĕlas = habis)

Nilai sengkalannya sebagai berikut :
- Gagana (langit) = bermakna kosong, bernilai 0
- Muka (wajah) = pada wajah terdapat lubang mulut,maka bernilai 9.
- Mata = berjumlah dua,maka bernilai 2
- Indu (rembulan) = hanya ada satu di langit, maka bernilai 1.
"gagana-muka-mata-indu" = 0-9-2-1
Jika di susun dari belakang = Śaka 1290
Jika di konversi ke tahun Masehi = 1290 + 78 = 1368

VERSI NĀGARAKṚTĀGAMA

Menurut versi ini,Gajah Mada jatuh sakit pada 1363 sewaktu Śrī Hayam Wuruk berziarah ke Candi Simping,di kisahkan dalam pupuh 70. 

Kemudian pada pupuh 71, bait pertama, Gajah Mada dikisahkan meninggal pada 1364, setelah menjabat Rakryan Mapatih sejak 1331.

Kutipan kalimatnya sebagai berikut :
"tryanginina śaka pūrwa rasika n pamangkwakĕn i sabwat sabhuwana,
pĕjah irikā śakābdha rasatanwināśa naranātha mār salahaśa,"

Terjemahan :
Tahun Śaka "tri-angin-ina" beliau memegang urusan senegara. Meninggal pada Śaka "rasa-tanu-ina", sedih perasaan Raja (Hayam Wuruk), putus asa.

Sengkalan "tri-angin-ina" adalah tahun pelantikan Gajah Mada sebagai Rakryan Mapatih atau Rakryan Apatih.

- Tri = dari bahasa Sanskerta bermakna "tiga", maka nilainya 3.
- Angin = berwatak "lima", sehingga nilainya 5.
- Ina = dari bahasa Sanskerta bermakna "matahari". 

(jangan rancu dengan "ina" bahasa Jawa Kuno yang bermakna "ibu").

Dalam tradisi Hindu,dewa matahari dan adik-adiknya disebut sebagai Dwadaśāditya, yaitu Dua Belas Āditya. 

Maka, matahari (ina) bernilai 12.
(berbeda dengan sengkalan Jawa Baru: matahari bernilai 1, sama seperti rembulan).

Angka 3-5-12 jika di susun dari belakang menjadi tahun Śaka 1253, yaitu sama dengan 1331 Masehi. 

Itulah tahun pelantikan Gajah Mada sebagai patih Majapahit. 
NB : tidak ada jabatan Mahapatih di Kerajaan Majapahit, yang ada ialah Rakryan Mapatih atau Rakryan Apatih.

Baris selanjutnya mengisahkan Gajah Mada meninggal pada sengkalan "rasa-tanu-ina".
- Rasa = manis, asam, asin, pedas, pahit, sepet, jumlahnya enam jenis, maka bernilai 6.

- Tanu = badan langsing, maksudnya ialah ular. 

Ada juga yang menyebut "tanu" adalah bunglon, hewan melata yang sebangsa ular, maka bernilai 8.
- Ina = nama lain matahari, bernilai 12.

Angka 6-8-12 jika disusun dari belakang membentuk tahun Śaka 1286 = 1364 Masehi.

Kesimpulan :
- Gajah Mada muksa bersumber dari Kidung Suṇḍa dan juga Kidung Suṇḍāyana.

- Gajah Mada meninggal pada 1368 bersumber dari Pararaton.
- Gajah Mada meninggal pada 1364 bersumber dari Nāgarakṛtāgama.

Saya pilih yang mana ?

Jelas pilih Nāgarakṛtāgama, karena ditulis pada 1365, hanya selisih setahun dengan peristiwa meninggalnya Gajah Mada, sedangkan Pararaton di tulis setelah Majapahit runtuh. 

Adapun Kidung Suṇḍa ditulis pada 1878 sehingga isinya lebih banyak bersifat fantasi daripada histori.

Selain itu, Mpu Prapañca yang menulis Nāgarakṛtāgama pernah menjadi pejabat agama Buddha di Kerajaan Majapahit, juga kenal dengan Gajah Mada. 

Dengan demikian, berita yang ia tulis bahwa Gajah Mada meninggal (pĕjah) pada 1364 jelas lebih valid di banding versi lainnya.

Rahayu..

 Sumber : Adhie Khumaidi
Reporter : SIH
Editor Redaksi