Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : MARI JAGA BOROBUDUR KITA

Opini Kabarposnews.co.id Sejak kemarin hingga sore ini beberapa warganet bertanya-tanya dalam setengah emosi, bahkan ada yang hingga mengeluarkan kalimat yang tak patut, dan seolah penulis jadi tempat pelampiasan amarah mereka, terkait dengan 'Judul' berita kenaikan harga tiket masuk ke Candi Borobudur yang wow.

Banyak yang mengira kenaikkan dimaksud dari Rp 50.000 menjadi Rp 750.000. Padahal tidak demikian yang dimaksud, karena tiket masuk ke kawasan Candi Borobudur masih tetap Rp 50.000. Sedangkan bila tertarik naik ke candi dikenakan biaya Rp 750.000. Itu berlaku untuk wisatawan lokal Indonesia. Adapun untuk wisatawan mancanegara dikenakan USD 25 untuk tiket masuk, dan USD 100 bila naik. Namun kenaikan ini sebenarnya belum final, dan mungkin nilai finalnya jauh lebih kecil.

Hal tersebut diwacanakan mengingat adanya sistem kuota per hari bagi yang diperbolehkan naik ke atas Candi Borobudur. Pemerintah menetapkan kuota yang diperbolehkan naik ke atas candi hanya 1.200 orang per hari, guna melindungi bangunan Candi Borobudur atau konservasi demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, yang kini mulai mengalami penurunan, serta pengikisan yang diduga diakibatkan oleh adanya beban berlebih akibat banyaknya kunjungan wisatawan.

Sehingga penetapan harga baru naik ke candi, didasari atas pertimbangan kuota per hari agar pengunjung yang ingin menaiki candi harus orang yang bersungguh-sungguh dan sangat berkepentingan. Jadi bukan orang yang hanya ingin sekedar foto-foto, namun orang yang karena dia sudah membayar mahal, tentulah akan sungguh-sungguh, misalkan untuk belajar sejarah, atau untuk tujuan penelitian.

Karenanya pun pihak pengelola menyiapkan pemandu wisata atau tour guide di atas candi yang akan menjelaskan mengenai sejarah candi yang dibangun pada 770 Masehi tersebut untuk menerangkan mengenai relief di tiap dinding candi. Untuk itu bagi pelajar yang bertujuan mempelajari Candi Borobudur hanya dikenakan tarif Rp 5.000 saja per siswa. Harapannya bagi umat Buddha yang akan melakukan peribadatan pada hari tertentu tidak dipungut bayaran setelah melapor kepada pengelola.

Pemerintah memang sudah saatnya berani memutuskan hal yang mungkin tidak populer, karena begitu mahalnya kenaikkan dimaksud. Sebab dalam beberapa kesempatan penulis naik ke candi untuk mengantar sahabat yang berasal dari luar Indonesia, mendapat sentilan, diantaranya ada yang mengatakan bila orang Indonesia sendiri kurang ada rasa memiliki.

Menurut laporan BKB atau Balai Konservasi Borobudur, banyak wisatawan lokal yang seenaknya bersandar atau duduk-duduk di stupa, hingga ada yang memanjat. Yang lebih miris lagi ada juga yang bawa makanan, hingga meninggalkan sampah, dan mematikan rokok di sela-sela candi. Aksi vandalisme lainnya ada yang hingga mencoret-coret, menggeser, mencungkil bagian stupa. 

Yang menjijikkan ditemukan pula sekitar tiga ribuan noda permen karet. Padahal petugas sudah berkali-kali memberi peringatan lewat pengeras suara, serta inspeksi keliling dan teguran langsung terus menerus: "Mohon tidak memanjat, duduk, atau bersandar pada candi atau stupa". Candi ini selain tempat ibadah, Tempat Suci, juga situs purbakala. 

Jadi bagi warganet yang marah-marah bisa penulis maklumi, karena memang mahal sekali bila Rp 750.000. Penulis usul agar masih bisa diturunkan setidaknya menjadi Rp 400.000. Namun begitu, kita pun bisa belajar dari Prancis yang menetapkan harga tiket untuk naik ke Menara Eiffel setara dengan nilai Rp 950.000. Padahal nilai Borobudur dibanding Menara Eiffel jauh lebih tinggi, terlebih terkait dengan sejarah.

"Perlu dipahami pula bahwa sebenarnya nilai Rp 750.000 itu termasuk murah bila mengingat besarnya anggaran untuk perawatan yang menjadi tanggung jawab negara seperti yang telah ditetapkan UNESCO pada 1991 silam. Sehingga ketetapan harga tiket pun nantinya tentu saja akan dibahas bersama seluruh pihak terkait, termasuk UNESCO."

Seseuai rencana Kementarian Agama bahwa Candi Borobodur akan dijadikan sebagai pusat peribadatan bagi umat Buddha sedunia sebaiknya segera diputuskan secara resmi, dan diumumkan ke seluruh dunia. Dengan demikian akan semakin terjaga kelestarian dan kesakralannya, dan secara tidak langsung ikut mempromosikan pariwisata Indonesia untuk dunia, selain untuk generasi yang akan datang.

"Berhentilah marah, dan mari kita bantu pemerintah dalam upayanya melestarikan peninggalan bersejarah yang menjadi warisan dunia. Sisakanlah cinta kita untuk menghargai karya budaya leluhur kita dengan bijaksana, dan jejak cinta atas keberagaman Indonesia."

Salam Bhinneka Tunggal Ika 🇮🇩.

Sumber : Wahyu Sutono.
Reporter : SHT
Editor Redaksi