Ticker

6/recent/ticker-posts

OPINI : PANEMBAHAN SENOPATI PENDIRI KERAJAAN MATARAM ISLAM


Kabarposnews co.id  Ki Ageng Juru Mertani menghadap Sultan Hadiwijaya di kraton Pajang untuk mengabarkan perihal wafatnya Ki Ageng Pemanahan, serta memohon perintah siapa yang berhak menggantikan Ki Ageng Mataram. Sultan Hadiwijaya memberikan Songsong Kyai Mendung kepada Ki  Juru Mertani untuk diserahkan kepada Danang Sutawijaya   sebagai perlambang bahwa Beliau mengangkat nya sebagai Senapati Ing Alaga. Sesampai di Mataram , Songsong Kyai Mendung tersebut diambil oleh Danang Sutowijaya dan digunakan untuk memayungi Jenazah Ki Ageng Pemanahan selama prosesi pemakaman.Menurut Danang Sutowijaya Ki Ageng Pemanahan sangat berhak untuk mendapat  perlakuan istimewa tersebut karena sebenarnya Songsong  Kyai Mendung  adalah Sebuah pusaka yang berbentuk songsong agung  untuk Raja raja sejak Raja Majapahit , Sultan Demak, hingga  Sultan Hadiwijaya " 

Danang Sutawijaya terlahir dengan nama Raden Bagus Srubut atau Raden Danar Atau Raden Danang. Beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Ageng Sabinah.

Silsilah Danang Sutawijaya dari kedua orangtuanya sbb:
1. Dari sisi Ki Ageng Pemanahan.
Prabu Brawijaya V Raja Majapahit VII menikah dengan Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kajawan. Raden Bondhan Kajawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub II menurunkan Ki Getas Pandowo. Ki Getas Pandowo menikah dengan putri Sunan Mojogung melahirkan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo menikah dengan putri Ki Ageng Wonosobo menurunkan Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis menikah dengan Nyai Ageng Henis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan menikah dengan Nyai Ageng Sabinah menurunkan Danang Sutawijaya.

2. Dari sisi Nyai Ageng Sabinah 
Sunan Giri Prabhu Satmoto menikah dengan Nyai Ageng Ratu putri Sunan Ngampeldento menurunkan Sunan Giri II. Sunan Giri II atau Sunan Giri Dalem menurunkan Ki Ageng Kawisguwo. Ki Ageng Kawisguwo atau Pangeran Sobo menikah dengan Nyai Ageng Sobo putri Ki Ageng Selo dari garwa putri Ki Ageng Wonosobo menurunkan :
1. Nyai Ageng Sabinah.
2. Ki Ageng Juru Mertani

Danang Sutawijaya sejak muda sudah terlihat mewarisi sifat sifat luhur pendahulunya. Beliau memiliki sifat ksatria, pemberani, dan jiwa pemimpin, tekun semedi, gemar mempelajari dan berlatih ilmu kanuragan dan ilmu perang. Dan ahli dalam berkuda. Danang sejak muda sudah memiliki aura kharismatik. Dan bukan tidak mungkin Beliau adalah seseorang yang kelak akan mewujudkan impian leluhurnya ( Ki Ageng Selo ) menjadi Penguasa di Tanah Jawa.
Demikian kenyataannya, takdir membawanya terpilih menjadi putra angkat Sultan Hadiwijaya Raja Pajang, dengan nama Danang Sutawijaya dan Sultan Hadiwijaya berkenan memberi tempat tinggal di sebelah utara pasar kemudian kelak Danang Sutawijaya mendapat julukan Raden Ngabehi Sak Loring Pasar.
Pada tahun 1549 Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara kepada siapapun yang berhasil menundukkan Haryo Penangsang akan mendapatkan hadiah Tanah Perdikan. Sayembara akhirnya jatuh kepada Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya Ki Juru Mertani juga Raden Penjawi. Ketika rombongan Ki Ageng Pemanahan akan berangkat ke medan laga, tiba tiba Danang Sutawijaya dengan berkuda tampil mendampingi Bapaknya, Ki Ageng Pemanahan. Beliau tidak tega ayahnya berangkat ke medan laga sendiri disamping itu beliau sebagai putra angkat Raja Pajang merasa terpanggil untuk membela negerinya. Hingga akhirnya Prabu Hadiwijaya memerintahkan para prajuritnya untuk membantu Danang Sutawijaya. Singkat cerita akhirnya Ki Ageng Pemanahan berhasil membuat kocar kacir pasukan musuh, bahkan berkat kecerdikan Ki Ageng Jurumertani akhirnya Danang Sutawijaya berhasil menundukkan Haryo Penangsang.

Demikianlah akhirnya Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya berhasil menyelesaikan perintah dari Sultan Hadiwijaya, tetapi Sultan Hadiwijaya belum berkenan untuk memberikan hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan yaitu Tanah Mentaok, karena ramalan dari Kangjeng Sunan Giri Prapen bahwa di Alas Mentaok kelak berdiri sebuah Kerajaan yang lebih mulia daripada Kerajaan Pajang. Sementara itu Raden Pendjawi mendapat Tanah Pathi sebagai ganjarannya.
Ketika Ki Ageng Pemanahan menghadap Sunan Kalijaga, beliau malah diperintahkan untuk bertapa dan laku prihatin ke daerah yang kemudian disebut " Kembang Semampir " hingga akhirnya beliau mendapat " Wahyu Gagak Emprit "
Akhirnya tujuh tahun kemudian pada tahun 1556 Masehi, Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan. Kemudian Ki Ageng Pemanahan dan keluarga besarnya dan pendukung setianya berangkat ke Alas Mentaok. Dan membuka Alas Mentaok untuk tempat tinggal beliau dan keluarga besarnya, daerah tersebut kemudian dinamakan Perdikan Mataram dan Ki Ageng Pemanahan sebagai sesepuhnya dengan julukan Ki Ageng Mataram. Ki Ageng Pemanahan wafat tahun 1575 Masehi, dimakamkan di Dalem beliau di samping Masjid di Kotagedhe.

Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan , Danang Sutawijaya menggantikan kedudukan beliau dengan nama Adipati ing Ngalaga dan harus setia kepada Kerajaan Pajang. Sementara itu Danang Sutawijaya berkeinginan melepaskan diri dari Kerajaan Pajang dan berkeinginan mendirikan sebuah Kerajaan. Oleh Ki Ageng Juru Mertani, paman beliau, Danang Sutawijaya diberi wejangan dan  nasehat serta peringatan kepada Panembahan Senopati untuk tidak pernah memusuhi Sultan Hadiwijaya :

 “ Ngger janganlah kamu memusuhi Sultan Hadiwijaya  yang tak lain adalah orangtuamu dan juga gurumu, Aku malu karena kita yang berada di Perdikan Mataram sepertinya tidak tahu membalas budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati dan kita bangun oleh Beliau? Aku minta Ngger, lebih baik sekarang mintalah dan berdoalah kepada Allah jikalau Sultan Hadiwijaya wafat  Angger bisa menggantikan Keratonnya.Tapi sekarang jangan sekali kali memusuhi Beliau,justru sebaliknya balaslah kebaikannya supaya batinnya rela jika Angger kelak menggantikannya sebagai Raja.” 

Dan atas saran Ki Ageng Juru Mertani, berangkatlah Danang Sutawijaya ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran dan berdoa kepada Allah. Dimana ditempat itu ada semacam danau yang tengahnya ada Watu Gilang. Di Watu Gilang itulah Danang Sutawijaya bersemedi, sholat bahkan tidur. Kelak daerah tersebut dinamakan Lipuro berasal dari kata penglipur lara. Dan kelak Watu Gilang tersebut dibawa ke Keraton Kotagede sebagai Palenggahan Beliau.

Pada tahun 1582 Masehi Sultan Hadiwijaya wafat. Sebagai Raja Pajang selanjutnya adalah menantu Sultan Hadiwijaya yaitu Arya Pangiri. Sementara Sultan Hadiwijaya memiliki seorang putra yaitu Pangeran Benowo yg berhak menggantikan Sultan Hadiwijaya. Demi melihat kondisi Keraton Pajang yang tidak stabil, Danang Sutawijaya akhirnya bertekad melepaskan diri dari ikatan Keraton Pajang dan mendirikan kerajaan baru.
Pada awalnya Beliau akan membangun Kedaton pusat pemerintahan di daerah dekat daerah kekuasaan Ki Ageng Mangir tetapi dilarang oleh Ki Juru Mertani. 
Kemudian pada suatu hari disaat Danang Sutawijaya sedang di Lipura untuk bermunajad dan berdoa kepada Allah tiba tiba ada sebuah sinar terang jatuh menuju kearahnya hingga ada sebuah bisikan untuk mendirikan Keraton Mataram di Kotagedhe. Kejadian tersebut kemudian dinamakan “Wahyu Lintang Jauhari “  

Pada tahun 1586 Danang Sutawijaya mendirikan kerajaan yang dinamakan Kerajaan Mataram Islam dengan pusat pemerintah di Kotagedhe. Dan Danang Sutawijaya menjadi penguasanya dengan gelar :

" Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kangjeng Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa "

Pada masa pemerintahannya Panembahan Senopati memperluas daerah kekuasaan dan menaklukkan kerajaan kerajaan maupun Kadipaten disekitarnya seperti Pajang tahun 1587, Demak tahun 1588, Madiun tahun 1590, Kediri tahun 1591, Ponorogo tahun 1591.

Panembahan Senopati memiliki beberapa istri
1. Nyai Adisara
2. Kangjeng Ratu Waskita Jawi
3. Kangjeng Ratu Giring
4. Kangjeng Ratu Retno Dumilah
5. Nyai Bramit
6. Nyai Riyo Suwanda

Para putra:
1. Raden Ronggo, Pangeran Adipati Pati
2. RM Tembaga / Pangeran Adipati Puger, Pangeran Adipati Demak
3. RM Kedawung / Pangeran Demang Tanpa Nangkil
4. RM Damar / Pangeran Purbaya
5. RM Djulig / Raden Adipati Pringgalaya, Bupati Madiun.
6. RM Bagus / Pangeran Blitar / Panembahan Juminah, Bupati Madiun.
7. RM Kanistren / Pangeran Adipati Martalaya, Bupati Madiun
8. RM Betatat / Pangeran Jayaraga, Bupati Ponorogo
9. RM Jolang / Panembahan Cakrawati
10. Pangeran Pringgalaya
11. Pangeran Silarong
12. Raden Ayu Pembayun
13. Raden Ayu Tg Tanpa Nangkil
14. Raden Ayu Tepasana
15. Raden Ayu Wangsa Cipta / RAy Kajoran

Panembahan Senopati bertahta tahun 1586 sampai tahun 1601. Beliau adalah Pendiri sekaligus peletak nilai nilai dasar Kerajaan Mataram. Beliau wafat tanggal 30 Juli 1601 ketika sedang berkunjung di desa Jenar, maka kemudian beliau dijuluki Sinuwun Kangjeng Susuhunan Seda Kadjenar.
Jenasah Beliau dimakamkan di Astana Kotagedhe

Al Fatihah kagem Eyang Panembahan Senopati.

Dari berbagai Sumber
Reporter : SHT.
Editor Redaksi