Ticker

6/recent/ticker-posts

Miris, Janda Miskin Anak Dua Tempati Gubuk Reot

Kabarposnesw.co.id - Hati siapa yang tidak iba jika melihat seorang ibu dan dua anaknya tinggal di gubuk reot layaknya rumah-rumahan. Gubuk reyot dihuni janda miskin anak dua sedang viral di media sosial (medsos) dan menjadi sorotan dalam dua hari terakhir ini.

Berawal dari berita tersebut, pagi itu awak media bersama Komunitas Peduli Anak Yatim dan Dhuafa (KPYD), Komunitas Pijay Gleeh (KPG) dan IJTI Kabupaten Pidie Jaya menyambangi kediaman janda tersebut yang berlokasi di pingir sawah Gampong Deah Ujong Baroh Peulandok, Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya-Aceh.

Kedatangan awak media dan komunitas juga berbarengan dengan petugas dari Baitul Maal Pidie Jaya yang juga mengecek kebenaran informasi yang tersebar di medsos. 

Kisah pilu seorang janda miskin beranak 2 (dua) yang tinggal di sebuah gubuk reyot dibelakang rumah keluarganya. Bagaimana tidak janda berumur 32 tahun ini tinggal di sebuah rumah tidak layak huni selama hampir enam tahun lalu.
 
Saat disambangi Kabarposnesw  tampak rumah janda muda dua anak ini berada sekitaran 200 meter dari Meunasah gampong ke arah barat, tepatnya di dekat sawah pigiran gampong. Untuk menuju rumah tersebut saja harus melewati jalan setapak yang sempit melaui sumur tetangganya.

Koordinator KPYD Pijay, Bripka Jhonny Rahmad kepada media Sabtu (01/05/2021) mengatakan, kunjungan kami ini hanya sekedar peduali dan perihatin dengan kodisi yang dialami oleh janda muda dua anak tersebut. “Kami hanya hanya membawa sedikit sembako untuk keluarga itu agar sedikit terbantu untuk tetap bertahan hidup seadanya di tengah pandemik sekalipun,” ujar Bripka Jhoni.



Sehari-hari Nadinatul Husna bersama dua anaknya tinggal di rumah berukuran 3x6 meter berdindingkan tepas (ayaman bamboo) dan beratap daun rumbia dari rumah tua bekas keluarganya. Kamar tidur, ruang makan, ruang tamu dan dapur menjadi satu. Itulah keadaan rumah janda muda ini bagaikan rumah-rumahan.

Dalam kesehariannya, janda muda ini bertahan hidup dengan dua anaknya yang masih kecil, meskipun harus tinggal di gubuk berdinding tepas bekas dan berlubang.

Menjadi buruh harian lepas di salah satu gudang sirup Keudee Trienggadeng, dengan gaji Rp40.000/hari. Setiap harinya ia harus menempuh jarak tempat bekerja lebih kurang 2,5 km serta berkerja dari jam 8.00 sampai 17 Wib sore,” akuinya

“Saya pergi kerja biasanya diantar oleh ayah saya, terkadang saya diboncengi kawan satu kerjaan, anak saya yang nomor dua ketika saya kerja tinggal bersama orang tua, terkadang pula ikut bersama saya ketempat kerja.” cerita Nadia

Anak pertama saya tinggal bersama mertua saya (orang tua mantan suami saya-red) dan anak kedua saya tinggal bersama saya digubuk yang reot ini. Sebelum pisah kami juga tinggal tidak menetap, pernah tinggal di Meuraksa Kec, Meureudu dan juga di Samalanga Kab. Bireuen karena suami saya hanya buruh
Saya pisah dengan suami sejak 2018, dan tinggal ditempat ini lebih dari 5 tahun yang lalu dan tidak tau mengadu kepada siapa-siapa, saya bekerja berkerja semata-mata untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sayang selama puasa saya baru bekerja 7 hari saja. Selama ini saya tidak mendapatkan bantuan apa-apa selain BLT di desa/ gampong, adakah saudara-saudaraku yang bisa menolong saya? “pertanyakannya dengan penuh harap

Pada pemerintah saya tidak ada harapan sama sekali, saya buka pendatang tapi sejak lahir disini. Sebenarnya tidak perlu saya melaporkan kemana-mana pihak gampong bias melihat sendiri keadaan yang saya rasakan. Namun uluran tangan dari yang mampu sangat saya butuhkan demi menjalani hidup ini. Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengabulkannya,” akhiri Nadia. (**)

Reporter : Irfan
Editor : Redaksi