Ticker

6/recent/ticker-posts

Bulog tidak mempunyai kemampuan menyerap gabah petani


Kabarpos.Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi kembali menyoroti kinerja perusahaan BUMN Bulog. Dedi Mulyadi menilai Bulog gagal dalam melakukan dua hal.

Pertama, kata Dedi, Bulog tidak memiliki kemampuan menyerap gabah petani sehingga para petani menjual hasil padinya ke tekngkulak. Namun tidak semua tengkulak memiliki modal yang cukup.

"Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan. Sehingga ada banyak titik waktu para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar," kata Dedi Mulyadi melalui ponselnya, Rabu (24/3/2021).

Menurut Dedi, hal kedua yang gagal dilakukan Bulog adalah tidak maksimalnya menyerap gabah petani.

Dedi mengatakan daya serap Bulog rendah karena sering kali membeli beras di bawah harga tengkulak.

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp 4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp 3.800 per kilogram. Hal itu karena Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.

Selain itu, lanjut Dedi, Bulog juga ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar.

"Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan," kata Politikus Partai Golkar ini.

Kemudian, lanjut Dedi, Bulog tidak memiliki gudang dengan tekonologi memadai dalam penyimpanan beras.

Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama sehingga mudah busuk.

Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan mengganjal memakai valet sehingga beras tidak bisa bertahan lama.

"Jadi Bulog itu seperti terperangkap. Beli (gabah) nggak bisa, jual (beras) juga nggak bisa. Bahkan beras sisa impor tahun 2018 dan 2019 juga belum terjual. Ini yang menjadi problematika dari sisi pengelolaan," kata Dedi.

Dedi mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kinerja Bulog membingungkan. Ia mengatakan, tugas Bulog itu apa dan yang dikerjakan itu apa.

"Beli tak bisa, jual juga nggak bisa. Andaikan bisa beli impor, setelah impor tak bisa jual juga. Seharusnya Bulog punya peran menyerap gabah petani. Namun gabah petani tak bisa dibeli juga. Misalnya, dari 8 juta ton beras yang bisa dibeli Bulog paling 30 persen," kata Dedi.

Sumber: TribunNews
Editor : Redaksi